π Baca Bab Ini & Happy Reading!
“Kenyamanan jasad adalah
dengan sedikit makan; kenyamanan jiwa adalah dengan sedikit dosa; kenyamanan
hati adalah dengan sedikit keinginan; dan kenyamanan lisan adalah dengan
sedikit berbicara.” (Tsabit Qurrah)
Keberadaan
taman merupakan simbol dari sebuah rumah yang terpelihara atau tidak. Sebab,
kalau kita terbiasa merawat taman, niscaya merawat rumah bukan pekerjaan yang
sulit. Sehingga, perilaku merawat taman memang harus dilakukan secara telaten
dan terus menerus. Pasalnya, di taman itu ada sejumlah jenis tanaman. Dan kita
tahu tanaman adalah salah satu makhluk hidup ciptaan-Nya. Seperti layaknya
makhluk hidup umumnya, tanaman itu pun lahir, tumbuh, dan terus berubah
bentuknya.
Semua
itu mengandung arti bahwa dengan merawat taman, berarti kita sejatinya tengah
mengungkapkan rasa syukur atas nikmat mempunyai rumah. Apalagi jika taman-taman
itu terpelihara dengan baik. Ia akan memancarkan kebeningan berupa kesejukan
bagi setiap orang yang memandangnya, membuat nyaman dan tenang bagi mereka yang
berada di lingkungan taman tersebut.
Begitu
pun dengan manusia. Ia ibarat sebuah rumah. Dan sebagai taman-tamannya adalah
perilaku kesehariannya yang merupakan cerminan dari kondisi hatinya. Dr. Ahmad
Faried menggambarkan hubungan hati dengan organ-organ tubuh lainnya, laksana
raja yang bertahta di atas singgasana yang dikelilingi para punggawanya.
Seluruh anggota punggawa bergerak atas perintahnya. Dengan kata lain, bahwa
hati itu adalah sebagai reaktor pengendali atau remote control sekaligus
pemegang komando terdepan (utama). Makanya, semua anggota tubuh berada di bawah
komando dan dominasinya. Di hati inilah anggota badan lainnya mengambil
keteladannya, yakni berupa inspirasi dalam ketaatan atau penyimpangan.
Jadi,
betapa indahnya bila kecerdasan inspirasi hati kita tetap terjaga. Yaitu suatu
suasana kehidupan manusia yang selalu diselimuti kebeningan hati, sehingga ia
akan selalu mengkonsulkan segala aktivitas hidupnya dengan indera perasa
(kebenaran) dan suara hati nuraninya. Sebab, adakah yang lebih jujur dari hati
nurani, ketika ia menyadarkan kita tanpa butiran kata-kata. Adakah yang lebih
tajam dari mata hati, saat ia menghentak kita dari beragam kesalahan dan alpa.
Singkatnya, sesungguhnya kondisi yang paling indah dari sebuah putaran
kehidupan ini, tidak lain adalah di mana ketika kita mampu secara jujur dan
tulus mendengar suara hati (keimanan).
Atas
dasar pola pikir itulah, buku Seri Kecerdasan Inspirasi Hati ini hadir untuk
Anda. Bila Anda telah membaca buku Trilogi Kecerdasan Inspirasi Hati yang saya
tulis sebelumnya. Yakni, ”Menjadi Pribadi Solutif: 6 Langkah Membangkitkan
Pola Pikir Sukses & Solutif Hidup Anda”; dan ”Menjemput Nikmat
Kehidupan: 5 Langkah Membangkitkan Nikmat & Keindahan Hidup Anda”. Tentu,
buku ketiga ini akan menjadi pelengkap inspirasi dan motivasi tentang
Kecerdasan Inspirasi Hati ini. Buku ketiga dari Trilogi Kecerdasan Inspirasi Hati
ini, saya beri judul: ”Menjadi Pribadi Bahagia: 5 Langkah Membangkitkan
Perilaku Bahagia Hidup Anda.” Mengapa?
Alasannya,
karena dapat dipastikan setiap kita mengharapkan kebahagiaan dalam hidupnya.
Sehingga pantas bila Syaikh Syarbashi pernah berkata, “Semua manusia yang
hidup di dunia ini berlomba-lomba mencari kebahagiaan dan ingin bisa meraihnya
walaupun dengan harga yang tinggi.”
Kebahagiaan itu, ternyata di mata orang-orang bodoh dan
pendusta adalah dianggap sebagai lafaz yang tidak berhakikat dan merupakan
khayalan fatamorgana yang tiada nyata. Sungguh ini adalah sesuatu yang
kontradiksi dengan kenyataan bahwa Allah SWT telah menciptakan segala sesuatu
di dunia ini penuh dengan kebaikan, kenikmatan dan keberkahan. Lebih-lebih
Allah telah menurunkan Al-Quran sebagai petunjuk hidup manusia agar titak susah
(baca: QS. Thaha: 2).
Kenyataan berpikir model itulah, sesungguhnya awal
penyebab terjadinya kegagalan menggapai kebahagiaan hidup. Untuk itu, sangat
tepat bila setiap kita melakukan kontemplasi terhadap sikap hidup yang telah
kita lakukan selama ini. Sebab, tanpa melakukan “penilaian” terhadap sikap
hidup dirinya sendiri, maka jangan harap “kemulusan” kebahagiaan itu
menghampiri kita.
Terkait dengan itu, seorang dokter Muslim, Tsabit Qurrah,
memberikan perhatian melalui fatwa dan tipsnya yang dapat mengantarkan
seseorang kepada kebahagiaan. Beliau mengatakan, “Kenyamanan jasad adalah
dengan sedikit makan; kenyamanan jiwa adalah dengan sedikit dosa; kenyamanan
hati adalah dengan sedikit keinginan; dan kenyamanan lisan adalah dengan
sedikit berbicara.”
Secara demikian, yang membuat seseorang dapat menapaki
jalan kebahagiaan itu, kuncinya ada dalam perilaku dan sikap hidupnya sendiri.
Yakni berupa bagaimana keyakinan kita memperlakukan jasad, jiwa, hati, dan
lisannya itu secara benar. Dan di sini, kata kuncinya ada pada sikap “sedikit”
terhadap makan, dosa, keinginan, dan berbicara.
Pertama, kebahagiaan
jasad dengan sedikit makan. Jasad ini seperti sebuah mesin dan bahan bakarnya
adalah makanan. Artinya, kita hendaknya mempergunakan bahan bakar itu secara
wajar, sebab jika berlebihan ia bisa lebih berbahaya daripada api. Begitu juga
dengan jasad, bila tidak dikekang dari keinginan nafsunya, ia akan berbahaya
bagi orang lain dan menghilangkan citra kemunisaannya. Hebatnya lagi, ia bisa
lebih buas dari binatang yang cenderung membuat keonaran dan kerusakan.
Kedua, kebahagiaan
jiwa dengan sedikit dosa. Hal ini dapat dipahami, sebab jiwa itu cenderung
memerintahkan untuk berbuat jelek (ammarah bissu), maka jika ia terbebas
dari ikatannya, ia akan lari bergabung dengan setan. Dan konsekuensinya, ia
akan berkolusi, korupsi, menipu, dan berbuat sewenang-wenang yang melapaui
batas. Oleh karena itu, musuh paling berat manusia adalah hawa nafsunya
sendiri. Bagi siapa yang menturutkan hawa nafsunya, ia akan celaka. Al-Busyiri
berkata dalam sebuah syairnya, “Jiwa itu bagaikan anak kecil. Jika kamu
memanjakannya, hingga tumbuh dewasa pun ia akan tetap menyusu kepada ibunya. Akan tetapi, jika kamu menyapihnya maka ia akan berhenti
menyusu.” Jadi, jauhilah hawa nafsu, dan berhati-hatilah untuk tidak
memperturutkannya.
Ketiga, kebahagiaan
hati dengan sedikit keinginan. Langkahnya yaitu dengan meminimalkan rasa duka,
rasa takut, dan rasa resah. Hal ini didasari karena di dalam hati yang resah
sesungguhnya akan terbuka pintu-pintu kelemahan dan ketidak menentuan. Dan
kondisi seperti ini membuat hati dihadapkan pada dua pilihan pintu masuk,
yaitu: pintu keresahan atau pintu keberkahan. Walau demikian, hanya dengan
modal insting yang kuat dan berani ia akan mampu mempertahankan yang terbaik.
Islam sendiri, dalam hal ini telah mengajarkan pada pemeluknya bagaimana cara
memilih kebahagiaan dan ketenangan hati itu, seperti disebutkan dalam QS.
Ar-Ra’d: 28, Orang-orang yang beriman dan hati mereka merasa tentram dengan
mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi
tentram.
Keempat,
kebahagiaan lisan dengan sedikit berbicara. Alasanya, semakin sering seseorang
berbicara (yang tidak berguna), semakin besar peluangnya orang tersebut akan
tergelincir. Lisan yang terbiasa mengucapkan perkataan-perkataan yang tidak
pantas akan membahayakan orang lain. Dalam hal ini, Ibn Abbas pernah berkata, “Ucapkanlah
perkataan yang baik-baik, niscaya kamu akan beruntung. Jagalah
perkataan-perkataan yang kotor, niscaya kamu akan selamat. Jika tidak, niscaya
kamu akan menyesal kemudian.”
Buku Menjadi Pribadi Bahagia
yang sedang Anda baca ini, berisi inspirasi dan motivasi tentang bagaimana
caranya membangkitkan perilaku bahagia dalam hidup Anda. Secara garis besar,
buku ini berisi lima langkah membangkitkan perilaku bahagia hidup Anda. Langkah
pertama mengungkapkan perihal niat baik jangan ditunda. Di dalamnya dibahas
menyangkut niat baik untuk berkeluarga, bersedekah, berhaji, mempunyai anak,
dan menyelesaikan studi.
Langkah kedua buku ini
bercerita tentang masalah sikap jangan meremehkan hal-hal kecil. Dalam bagian
ini dicontohkan tentang bagaimana awal kehidupan manusia dimulai, sebuah kesuksesan
besar terbentuk, amalan kecil memiliki penghargaan tinggi, unsur paling kecil
terbentuk, dosa kecil bisa menjerumuskan, makhluk kecil begitu menggemparkan,
dan sebuah perubahan dimulai dari hal-hal kecil?
Langkah ketiga berisi ajaran
tentang memulai dari diri sendiri. Di dalamnya dibahas tentang bagaimana
memulai dalam hal keteladanan, keilmuan, dakwah, ekonomi, dan menjaga
lingkungan hidup.
Langkah keempat membahas
tentang bagaimana berpikir dan berperilaku dewasa. Yakni dewasa dalam menyikapi
pluralitas, mengambil keputusan, menyikapi kekalahan, kepribadian, dan
menyikapi kondisi umat.
Langkah kelima yang merupakan
bagian akhir buku ini berisi tentang bagaimana bahagia menjadi orang biasa. Di
bagian ini diuraikan seputar bagaimana menjadi bahagia ala orang yang berilmu,
orang yang berharta, orang yang diamanahi jabatan, orang yang bergelar, dan
orang yang diberi kelebihan fisik.
Jadi,
buku ini diperuntukkan bagi siapa pun yang ingin membangkitkan perilaku bahagia
dalam hidup kesehariannya. Dan jangan lewatkan isi buku ini, karena terus
terang saja ketika tiap kali membaca ulang buku trilogi ini, hati saya
termotivasi untuk selalu bergairah menikmati dan menjalankan kehidupan ini.
Untuk itu, mudah-mudahan secercah dari keindahan taman-taman kecerdasan hati
itu dapat pembaca peroleh melalui buku ini. Dan saya
berdoa semoga para pembaca dapat meraih inspirasi, dibukakan hati dan
pikirannya serta mampu merealisasikan nilai-nilai kecerdasan hati dalam
usahanya mencapai kebahagiaan yang dicita-citakannya. Amin.
Akhirnya,
pastikan dalam menghadapi kehidupan ini, tubuh kita terjaga dari makanan yang
berlebih-lebihan, jiwa terhindar dari perbuatan dosa, hati terjaga dari
keinginan yang tidak terkendali, dan lisan terjaga dari perkataan yang kotor.
Bila hal ini telah dilakukan, maka sesungguhnya kita telah menapaki dan
menempuh jalan yang lurus lagi menjadi orang-orang yang berbahagia. Selamat
menikmati isi buku ini!
Salam Kecerdasan
Inspirasi Hati
Arda Dinata
Daftar Bab
Memuat bab...
Daftar Bab
Memuat bab...
π Koleksi Ebook
Karya Pilihan Arda Dinata
Tersedia di Google Play Books — klik untuk membaca atau membeli
Menampilkan 47 judul ebook
Identifikasi Tikus, Pinjal, dan Kecoa
Beli / BacaBersahabat Dengan Nyamuk
Beli / BacaRahasia Daya Tahan Hidup Nyamuk DBD
Beli / BacaMembongkar Rahasia Bionomik Nyamuk Anopheles
Beli / BacaPendekatan Kesehatan Lingkungan Pengendalian DBD
Beli / BacaBersahabat Dengan Malaria
Beli / BacaAtasi Penyakit Skabies
Beli / BacaSanitasi Atasi Stunting
Beli / BacaStandar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaRahasia Kimia Cinta
Beli / BacaKesehatan Ibu & Anak
Beli / BacaMenguasai Kecerdasan Buatan (AI) Untuk Pemula
Beli / BacaSMART Sanitation
Beli / BacaPola Makan Sehat di Era Digital
Beli / BacaDunia Sanitasi Lingkungan
Beli / BacaManusia dan Lingkungan
Beli / BacaKepemimpinan & Komunikasi Manajemen Proyek
Beli / BacaKeperawatan Jiwa
Beli / BacaDasar-Dasar Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaEpidemiologi Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaKesehatan Alat Makan
Beli / BacaProduktif Menulis Artikel Kesehatan
Beli / BacaMindmap Penulisan Buku
Beli / BacaMenjadi Penulis Mandiri
Beli / BacaStrategi Produktif Menulis
Beli / BacaCreative Writing & Writerpreneurship
Beli / BacaMembangun Keluarga Berkualitas
Beli / BacaKebijaksanaan Hidup Orang Sunda
Beli / BacaKeluarga Penuh Cinta
Beli / BacaMelapangkan Kebahagiaan Perkawinan
Beli / BacaPernikahan Berkalung Pahala
Beli / BacaMengikat Cinta Kasih
Beli / BacaSurga Perkawinan
Beli / BacaIbu: Cinta Yang Tak Berbatas
Beli / BacaAyahku, Guruku, Guru Kami
Beli / BacaCerdas & Bahagia Menghadapi Masa Pensiun
Beli / BacaRETAKAN
Beli / BacaPecahan Cinta
Beli / BacaWhispers of the Sunset
Beli / BacaEpos Aurora: Petualangan di Alam Semesta
Beli / BacaMelangkah Dalam Cahaya (Prinsip Hidup Ala Rasulullah)
Beli / BacaMenjadi Orang Bahagia
Beli / BacaMerajut Cinta Allah
Beli / BacaPemberdayaan Majelis Taklim
Beli / BacaBermesraan Dengan Kebaikan
Beli / BacaDear Friend
Beli / BacaTaman-Taman Kebeningan Hati
Beli / Baca
Tulis Komentar di Bawah ini!